Studying Abroad in a Nutshell

I had always dreamed of studying abroad since I was younger and I’m sure a lot of people have too. After I got the chance to do so, I can make a confession that it really is a wonderful experience that everybody should have the opportunity to experience it once in their lifetime.

As one of many people who got lucky enough to have the chance to study abroad, I got asked quite a lot about what it’s like to study in a foreign country and whether or not the system is different from that back at home. Well, the answer is, yes, it is indeed different from when I was studying in Indonesia but the  all the differences are not too overwhelming. Although obviously, my opinions might be biased because I am taking a different level of education here so do note that it may be an affecting factor.

Where should I start, though?

Continue reading “Studying Abroad in a Nutshell”

Sharing Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP

(I couldn’t stress how happy and grateful I am to found out that my name is on the list of LPDP scholarship’s awardees. Throughout the application processes I was hugely helped by some bloggers who had their share of experiences applying for this scholarship, so I make this post hoping this might help and inspires another LPDP or any scholarship hopefuls out there. Go catch your dreams, it is not impossible)

===

Logo

Dalam post ini saya ingin sekadar membagi pengalaman saya dalam mengikuti proses seleksi beasiswa LPDP dari mulai proses pendaftaran, seleksi administrasi, dan seleksi wawancara beserta LGD. Saya tidak membagi tips apapun karena saya yakin sudah sangat banyak sekali blogger yang membagikan tips yang sangat informatif dalam proses “memburu” beasiswa, terutama beasiswa LPDP. However, mudah-mudahan pengalaman yang saya bagikan ini bisa menjadi masukan dan tambahan semangat untuk teman-teman yang juga sedang atau berniat untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP.

Seleksi Administrasi

Tadinya, saya berencana untuk mengikuti seleksi periode tahun depan (sekitar Februari/Maret 2015) karena persiapan saya masih sangat minim pada waktu itu, informasi mengenai beasiswa LPDP saja baru saya dapatkan. Tetapi, karena intake universitas yang rencananya akan saya ambil adalah bulan September 2015, saya takut waktunya akan terlalu mepet apabila saya baru mendaftar untuk beasiswa di awal tahun 2015. Akhirnya, dengan modal nekat saya memutuskan untuk mendaftar pada periode Desember 2014 walaupun pada saat itu waktu pendaftaraan akan ditutup sekitar 2-3 mingguan, padahal saya belum memiliki LoA dari universitas yang akan saya tuju, yaitu University of Birmingham. Nekat, ya hehe. Untuk syarat dan ketentuan pendaftaran dapat dibaca disini.

Menurut cerita orang-orang, proses seleksi administrasi inilah yang paling banyak mengeliminasi calon peserta, makanya saya sempat deg-degan dan ngecek berkali-kali berkas-berkas yang harus diupload. Saran saya sih, sebelum melakukan proses pendaftaran sebaiknya benar-benar dibaca dan dipahami semua syarat-syarat dan berkas-berkas yang diperlukan. Format juga penting lho, jadi mesti hati-hati banget, ya jangan sampai salah. Berdasarkan pengalaman saya, seleksi ini tidak berat kok, kalau sudah memenuhi persyaratan, asal rajin dan teliti saja. Yang paling berat, kalau untuk saya sih, menyiapkan essay-nya. Total ada 3 essay yang harus di-submit, Sukses Terbesar Dalam Hidupku, Peranku Untuk Indonesia, dan Rencana Studi, karena harus benar-benar diniatin banget supaya hasilnya maksimal dan juga essay ini penting lho, ketika lolos ke tahap wawancara. Memang akan lebih ringan rasanya kalau punya banyak spare waktu, jadi berkas-berkas terutama essay dapat disiapkan dengan lebih matang.

Oiya, soal LoA, saya tahu banget ini salah satu frequently asked question untuk yang sedang mendaftar LPDP. Di laman web-nya disebutkan kalau kita bisa mendaftar meskipun belum mempunyai LoA dari universitas yang dituju. Dan ini memang benar kok, saya sendiri sampai saat ini masih proses mendapatkan LoA, hasil seleksi saya tidak terpengaruh meskipun saya belum mendapatkan LoA. Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa memiliki LoA dapat memberikan nilai plus, saya tidak yakin apakah ini benar mengingat pengalaman saya sendiri, tetapi jika memang ada waktu untuk mencari LoA duluan sebelum mendaftar beasiswa, mungkin akan lebih bagus untuk kalian sih, jadi bisa lebih fokus untuk mendapatkan beasiswa.

Leaderless Group Discussion (LGD) dan Seleksi Wawancara

Sekitar lima hari setelah deadline penarikan berkas, peserta yang lolos seleksi administrasi diumumkan beserta dengan jadwal LGD dan wawancara yang menyusul. Thankfully, my name was on the list. Saya mendapatkan jadwal LGD dan wawancara di Medan, tanggal 2-3 Desember 2014. Saya pilih Medan karena saat ini domisili saya di Batam, jadi lebih dekat (baca: ngirit tiket pesawat). Tapi memang jadwal di Medan itu mepet sekali dari tanggal pengumuman, jadi kira-kira saya hanya punya waktu sekitar 1 minggu untuk mempersiapkan wawancara dan LGD ditengah-tengah kesibukan kerja saya. Sempat stress juga, takut persiapannya kurang matang, apalagi  dari pengalaman saya mengikuti seleksi macam-macam (mulai dari organisasi, sampai melamar pekerjaan), tahap wawancara adalah tahap dimana saya sering gagal 🙁 But this time, the stakes were higher, I might have my biggest dream fulfilled if I could pull it off. 

  • LGD: Sebelum LGD, saya banyak-banyak membaca berita dan issues terbaru terutama di wilayah Indonesia. Saat itu topik yang sedang hangat adalah kenaikan harga BBM dan pelarangan nelayan asing untuk melaut di Indonesia. Harapan saya jika topiknya sesuai, LGD bisa saya jalani dengan lancar. Eh, taunya saya mendapatkan topik mengenai UU Minerba yang sama sekali tidak pernah saya baca beritanya. Memang saya sempat dengar beberapa peserta seleksi tahap sebelumnya yang mendapatkan topik ini, tetapi saya pikir topiknya tidak mungkin sama dengan yang kemarin. Dari pengalaman saya (dan banyak orang) selama LGD sebaiknya tenang dan artikel dibaca dengan baik sehingga dapat menarik poin-poin penting untuk disampaikan. Semakin banyak ide semakin baik, asalkan ide yang disampaikan memang relevan dan memiliki poin, jadi bukan hanya asal nyeplos. Tetapi meskipun kita punya banyak ide, jangan lupa untuk memberikan kesempatan pada anggota lainnya untuk menyampaikan ide mereka, kalau ada yang idenya kurang bagus mungkin dapat ditambahkan dan di-elaborate. Pokoknya jangan dominan, deh. Kebetulan kelompok LGD saya hanya terdiri dari 4 orang (1 orang tidak hadir) dan perempuan semua! Orangnya juga asik-asik karena sebelum LGD kami sudah sempat berkenalan dan ngobrol-ngobrol, jadi selama LGD rasanya lebih relax dan kami berdiskusi dengan ringan seperti sedang mengobrol. LGD masih santai, kok jadi tenang saja 🙂
  • Wawancara: Yang paling bikin deg-degan sepertinya wawancara, sih. Mengingat waktu persiapan yang minim, persiapan saya hanya sebatas banyak membaca blog-blog pengalaman orang yang sudah pernah mengikuti seleksi beasiswa apapun, terutama LPDP, membuat list pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya akan ditanyakan dan mempersiapkan jawabannya in both English and Bahasa Indonesia, juga berlatih di depan cermin dan membuat simulasi wawancara dibantu oleh pacar saya, itupun saya rasa masih kurang maksimal persiapannya. Saya mendapatkan giliran wawancara di hari yang sama dengan LGD sehingga saya bisa selesai dalam satu hari. Pewawancara saya terdiri dari tiga orang, satu perempuan dan dua laki-laki, salah satunya adalah psikolog (didn’t know which one). Tadinya saya kira wawancara akan dilalukan dengan Bahsa Indonesia atau at least, di-mix antara English dan Bahasa Indonesia, eh ternyata baru duduk sudah langsung disapa dalam Bahasa Inggris. Wawancara saya rasanya berjalan cepat sekali, saya kurang tahu pastinya tetapi yang jelas kurang dari 45 menit. Hal ini sempat membuat saya khawatir, takutnya performance saya kurang bagus sehingga mereka tidak perlu menggali lebih dalam lagi, hiks. Selain itu, yang sempat membuat saya ragu bisa keterima adalah karena salah satu pewawancara benar-benar mengkritisi Rencana Studi yang saya buat, katanya saya tidak detail dalam membuat rencana studi saya dan tidak sesuai dengan yang diminta. Huhu mau nangis, dong rasanya, apalagi rencana studi itu saya sudah buat berdasarkan berbagai referensi, kok, masa salah 🙁 Tapi saya tidak mau nyolot jadi saya iya-kan saja, sambil berterima kasih atas masukannya. Beberapa pertanyaan yang saya dapat, antara lain (yang saya ingat saja, hehehe):
    • Mau lanjut ke universitas mana?
    • Kenapa di University of Birmingham dan kenapa UK?
    • Rencananya mau ambil mata kuliah apa saja? –nah, ini sempat bikin jiper karena terus terang rencana studi saya belum sedetail itu, saya baru tau dua mata kuliah yang pasti akan saya ambil, jadi yah jawabnya agak sepik.
    • Waktu di universitas ikut organisasi apa saja? And what had it teach you?
    • Bagaimana cara kamu untuk meyakinkan orang agar mau menerima pendapat kamu?

Yang paling saya ingat sih, percakapan ini:

  • Pewawancara: Nanti habis kuliah akan balik ke Indonesia ga?
  • Saya: Pasti pulang, Bu.
  • P: Kalau di UK kecantol sama Bule trus disuruh tinggal disana, gimana?
  • S: Ga mungkin, Bu. Saya sudah punya pacar disini.
  • P: Tapi, kan nanti jadi LDR. LDR itu susah, lho.
  • S: Yah, sekarang juga sudah LDR kok, Bu hehehe
  • P: Oiya? Pacar kamu dimana?
  • S: Sedang mengambil master juga, di Monash University, Melbourne.
  • P: Oh, tapi, kan Indonesia-Australia lebih dekat. UK, kan jauh, lebih susah, lho.
  • S: Ehehe, saya yang lebih jauh juga pernah, kok, Bu, dulu dia sempat exchange ke Boston, USA *malah tsurhat*
  • P: …….hmm, oke. Next question.

Saya kira cukup sharing pengalaman saya, pas dibaca udah panjang aja post-nya hehe. Semoga apa yang saya tulis membantu, setidaknya memberi gambaran untuk teman-teman yang berminat untuk mendaftar beasiswa LPDP ini. Kalau ada yang kurang jelas atau ingin ditanya silakan tinggalkan komentar disini atau di akun ask.fm saya (shameless promotion). Semangat berburu beasiswa! Semoga berhasil!

Believe in yourself because some dreams might come true (terms and conditions apply). Toodles! 🙂

xx

Dee.

All I Want For Christmas

First of all, Happy Belated Christmas to y’all! May you have a great year ahead!

I don’t celebrate Christmas, but I have always loved its festivities and ambiance. And this year’s Christmas in particular is definitely the best I’ve ever had. My long distance relationship partner had arrived just one day before Christmas and even though he had a long and tiring journey to get here but we’re glad to be reunited again.

I don’t know if it’s Christmas miracle or he is my lucky star, but on that Christmas’ eve I also got another pleasant surprise. One of my biggest dream, which is to continuing master degree to United Kingdom, might had just came true. You have no idea how happy I am. I’m super ecstatic! Now I’m only several tiny steps away from that dream.

People who are close to me might have known how I’ve always had this huge dream to study in the UK, not only because it has the best business schools but also because of this one silly reason, I want to pick up British accent. Hahaha no kidding. Of course, there are a lot of other reasons too but I don’t intend to bore you with a long list of reasons why I want to study in the UK.

However, despite my huge desire to study there, I realized that it was almost as impossible as the sun rising from the south. Okay, that was a bit exaggerating but seriously, even though my parents are financially sufficient, I can’t ask them to pay for the tuition and living cost in the UK because 1.) it’s gonna cost them a fortune, 2.) they’re not that rich, and 3.) they still have two other children who need education as well. Therefore, my only option is to marry a billionaire and ask him to pay for my tuition apply for a scholarship. But, being a pessimistic that I was, I thought scholarships are too hard to obtain and I gave up even before trying. That was not cool, I know.

I didn’t even think about preparing to apply for scholarship until there was this thing that made me realize that I enjoy studying and I have to continue my master degree, like, immediately. So with a little hope, I tried to apply for LPDP Scholarship, it’s a scholarship provided by Indonesian government as a collaboration of Ministry of Education, Ministry of Religious Affairs, and Ministry of Finance. I was interested in this scholarship because it provides a full coverage funding. It doesn’t only provide tuition but also books, accommodation, and sufficient living cost. Long story short, about a month and a half after I applied, the good news came, right on the Christmas eve! I can’t say that it has been fixed yet because there will be another process to gone through and I have not yet applied to my desired uni, University of Birmingham but it’s already 98%. All I have to do is just follow the procedures and studying in the UK isn’t dream anymore 🙂

captureee

Could you say I am the happiest person ever? You bet your ass you could, I’ve got all I want for Christmas 🙂

(PS. I will make separate post to detail the process and experience I had applying for LPDP Scholarship. Stay tuned)